Senin, 20 April 2009

Komputer dan Kecelakaan Penerbangan




Ledakan bunga api yang mengakhiri penerbangan roket Ariane-5 pada tanggal 4 Juni 1996, mendorong kita untuk lebih memikirkan permasalahan atau bahaya yang diakibatkan kesalahan program. Roket Ariane ini setelah 40 detik berbelok dari arah yang direncanakannya, terpaksa diledakkan dan dihancurkan dengan alasan keselamatan (safety). Barang bawaan berupa 4 buah satelit juga terpaksa dihancurkan dan mengakibatkan kerugian lebih dari 600 juta dollar US.

Kesalahan Pemrogramankah Semua Ini?

Pada awalnya kecelakaan Ariane ini hanyalah dianggap seperti kesalahan pemrograman biasa atau yang dikenal dengan istilah "bug". Program untuk pengendalian Ariane ini ditulis dengan menggunakan bahasa pemrograman Ada, suatu bahasa pemrograman yang tergolong aman. Program kendali ini dijalankan pada komputer on-board. Komputer ini melakukan konversi data 64 bit floating point ke 16 bit integer, yang ternyata tidak selalu berhasil dengan baik. Pada saat terjadi kecelakaan nilai hasil konversi ini menjadi terlalu besar, maka konversi dianggap mengalami kegagalan. Hal ini menjadikan program melakukan proses penanganan kesalahan. Bersamaan dengan hal ini sesuai dengan aturan, maka kedua komputer akan segera dimatikan. Sehingga tak ada lagi informasi untuk sistem navigasi dan terjadilah bencana tersebut.

Tetapi bug tersebut bukanlah sekedar kesalahan pemrograman. Komputer navigasi memiliki rutin perangkat lunak yang diambil dari model pendahulunya, Ariane 4. Roket ini memiliki perilaku yang belum pernah dibandingkan dengan kondisi Ariane 5, atau telah diuji dengan seksama dengan komponen Ariane-5 [1]. Kontradiksi antara perilaku yang valid pada Ariane 5 dan persyaratan dari Ariane 5 telah tertimbun jauh dalam dokumentasi pembuatan Ariane. Bahkan proses pengembangan yang telitipun tak mampu menguak hal tersebut.

Sistem untuk misi amat penting (mission-critical system ) sudah sepatutnya diprogram sehingga mereka dapat menangani kondisi ketika memiliki nilai masukan atau keluaran yang salah. Sudah barang tentu variabel lainnya pada program yang sama di Ariane telah dilindungi dari terjadinya kondisi "overflow" ini. Tetapi dalam pertimbangan agar tak mengakibatkan beban kerja prosesor yang terlalu berat, maka proses perlindungan ini hanya dilakukan pada variabel-variabel yang sangat penting. Jelas pada kondisi ini programmer tak dapat disalahkan begitu saja Sebab sebelum mereka memutuskan untuk tak melindungi variabel tersebut, mereka telah membuktikan secara matematis bahwa tak ada nilai salah yang dapat timbul pada variabel yang tak terproteksi tersebut. Akan tetapi, pembuktian matematis untuk variabel tak terproteksi tersebut hanya valid untuk pola jalur lintas Ariane 4 yang lama.





Bila kita mempertimbangkan proses proteksi kisasan nilai ini, pertanyaan akan mengarah kepada pertimbangan, mengapa uji kisaran nilai ini dan pengujian lain tidak merupakan suatu kuajiban ketika digunakan pada perangkat lunak pada sistem tertentu ? Pertanyaan ini adalah pertanyaa terbuka dan tak memilki titik akhir jawaban. Sebagai ilustrasi akan dikemukakan salah satu contoh yang menunjukkan bahwa pada suatu sustem pengujian "safety" seperti ini bahkan menimbulkan suatu permasalahan tambahan tersendiri. Pada 15 Januari 1990, perangkat switch perusahaan AT&T yang berlokasi di pantai timur Amerika mengalami kelebihan beban ( overload), sehingga gagal melaksanakan tugasnya. Suatu modul untuk perbaikan pada saat itu melakukan inisialisasi ulang node tersebut pada suatu keadaan yang inkonsisten dan kemudian melakukan start ulang. Kondisi ini menghasilkan reaksi berantai yang mengakibatkan prosedur reboot di seluruh sistem telekomunikasi.

Mekanisme perbaikan (recovery mechanism) juga merupakan suatu perangkat lunak, yang merupakan bagian dari seluruh sistem. Keseluruhan perangkat lunak ini harus diimplementasikan secara benar. Sehingga penambahan modul perbaikan ini juga akan memberikan suatu permasalah tambahan. Semakin banyak mekanisme perbaikan yang disertakan pada suatu sistem semakin besar pula kemungkinan kesalahan implementasi mekanisme tersebut.

Solusi, Masalah dan Jenis Kesalahan

Pada umumnya, setiap solusi akan menimbulkan permasalahan baru bila diterapkan secara berlebihan. Yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah batasan antara "normal" dan "berlebihan". Pada tahun 1980-an sosilog Charles Perrow melontarkan argumen bahwa pada suatu sistem yang kompleks kesalahan seperti ini memang tak dapat dihindarkan [3]. Menurut Perrow, kesalahan sistem seperti ini cenderung terjadi pada sistem dengan kondisi di bawah ini :
  • Sistem terkait erat (tightly coupled). Suatu perubahan kecil akan menjalar dan segera memberikan dampak pada sistem secara keseluruhan
  • Sistem yang berinteraksi secara kompleks (interactivly complex), yaitu sistem yang memiliki banyak "agen pelaksana tugas" berupa prosesor atau manusia yang berkomunikasi satu sama lain secara intensif secara kompleks.
Pada kasus Ariane di atas, kesalahan juga terletak pada definisi kebutuhan (software requirement) perangkat lunak dan bukan pada jenis kesalahan pada sistem di atas. Kecelakaan seperti di atas dapat juga terjadi pada sistem yang kecil. Penggunaan ulang perangkat lunak ( software reuse) hanya dapat sukses setelah melalui analisis kebutuhan yang seksama. Kasus Ariane telah menunjukkan sejauh mana suatu analisis kebutuhan perangkat lunak seharusnya dilaksanakan. Kesalahan kisaran nilai hanyalah sebuah symptom bukan penyebab

Suatu studi di NASA Jet Propulsion Laboratory telah menunjukkan bahwa lebih dari 95% dari seluruh masalah pada sistem amat penting (mission-criticial) berada pada tingkat penentuan kebutuhan (requirement level) bukan pada disain pemrograman [5]. Requirement atau penentuan kebututhan berarti menentukan "Apa yang seharusnya dilakukan suatu sistem ? Apa kebutuhan yang harus dipenuhi oleh sistem". Sedangkan disain berarti menentukan "Bagaimana suatu sistem seharusnya memenuhi kebutuhan tersebut ? Dan bisa dipaparkan baik dalam terminologi umum (spesifikasi disain) atau dalam bentuk detail (sebagai source code pada bahasa tingkat tinggi).

Kesalahan suatu sistem dapat diklasifkasikan menjadi tiga kategori :

  • Kesalahan murni perangkat keras, misal kerusakan transistor. Kesalahan ini hanya dapat didiagnosis ketika terjadi. Perbaikan dilakukan dengan penggantian perangkat keras, misal dengan mengganti microchip.
  • Kesalahan tingkat menengah antara konsepsi ke disain perangkat keras, misal Pentium bug. Secara teoritis kesalahan ini dapat diketahui sebelum terjadi dan dihindari. Hal ini disebab setiap evel dari kesalahan ini dapat dibandingkan secara matemtis dengan tingkat lebih tinggi, dalam upaya membuktikan bahwa tingkat lebih rendah mengimplementasi tingkat yang lebih tinggi secara benar. Metoda formal menggunakan pendekatan ini
  • Kesalahan requirement. Sangat berbeda dengan tingkat menengah, requirement atau paparan kebutuhan tak dapat diverifikasi secara matematis. Apa yang kurang atau tak tepat pada tingkat abstraksi yang lebih tinggi tersebut, tingkat kebenarannya (correctness) tak dapat diturunkan. Kesalahan requirement hanya dapat ditemukan pada pengujian menyeluruh (all-up test) atau dengan membandingkan spesifikasi dari formalisasi dari dua formalisasi yang terpisah atau intuisi, paling tidak dapat dibuktikan pada sebagian dari keseluruhan sistem.
Permasalahan "pembalikan prioritas" (priority inversion) pada Mars pathfinder, yang menyebabkan kondisi reset dan penundaan pelaksanaan misi merupakan salah satu bentuk permasalah tingkat menengah walaupun juga relatif merupakan tingkat tinggi [6]. Kesalahan tingkat menengah sederhana seperti penanganan MIME pada Microsoft Outlook atau Netscape Messenger (yang juga merupakan permasalahan kisaran nilai, juga merupakan kesalahan pemrograman sederhana) [7] sangat jarang ditemukan pada sistem yang ditujukan untuk misi sangat penting. Pada sistem sangat penting source code akan diperiksa dengan amat sangat seksama oleh tim pengembang perangkat lunak, bahkan dimodifikasi berulang kali. Oleh sebab itu mengapa NASA lebih menyukai sistem operasi seperti Linux atau vxWorks, karena ketersediaan source code dari perangkat lunak, sehingga memungkinkan untuk dianalisis dan dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan misi yang sangat penting tersebut. ibuktikan pada sebagian dari sistem keseluruhan.

Komputer dan Pesawat Terbang

Suatu pesawat terbang agar dapat berangkat, terbang dan mendarat dengan selamat, maka orang, peralatan mekanik dan elektronik di pesawat terbang, juga mekanisme seluruh sistem pengaturan lalu lintas udara harus melakukan kerja sama sebagai suatu sistem heterogen. Komputer pada pesawat terbang merupakan bagian dari sistem keselurhan tersebut. Dalam hal ini kesalahan pemrograman belum tentu dapat dituding langsung sebagai penyebab sebuah kecelakaan. Tetapi suatu kecelakaan atau kejadian (incident dan accident) tak hanya dapat timbul oleh kesalahan pada salah satu komponen sistem, tetapi juga dari pelaksanaan pekerjaan yang mengkombinasikan keduanya.

Hampir selalu terjadi beberapa faktor yang tak dikehendaki terjadi secara bersamaan seperti pendaratan pesawat Airbus A320 di Warsawa pada September 1993 yang menyebabkan 2 orang meninggal [4]. A 320 adalah pesawat komersial pertama yang menggunakan peralatan kemudi terkontrol komputer yang tak dapat diambil alih oleh pilot (fly by wire). Hal ini dilakukan untuk melakukan pengurangan bobot pesawat serta meningkatkan kehandalan perangkat keras, dan mencegah dari kesalahan manusia dan beberapa hal lainnya. Pesawat ini dikemudikan dengan perangkat bantu sebuah joystick kecil dan bukannya peralatan kendali konvensional. Berdasarkan alasan inilah A320 selalu mendapat perhatian khusus dalam masalah kesalahan yang diakibatkan oleh pengendalian komputer.

Pada saat sedang mendekati bandara Warsawa, sang pilot sedang mengharapkan suatu perubahan arah angin dan ini yang tak terjadi. Mereka bukannya mendarat dengan arah angin dari kepala (headwind) tetapi dari ekor (tailwind). Kemudian pilot mencoba menambah kecepatan dengan sengaja karena disebabkan badai. Hal ini mengakibatkan kecepatan terhadap tanah yang lebih tinggi. Pada jalur pacu (runway) pesawat ini memiliki gaya angkat (lift) yang terlalu besar. Sensor roda menginfromasikan pada komputer bahwa pesawat belum menyentuh tanah. Logika perancangan dari sistem pengereman menyimpulkan bahwa pesawat masih dalam kondisi terbang, dan tidak segera mengaktifkan mekanisme pengereman (landing flap, reverse thrust, dan wheel brakes). Airbus sial ini melewati landanan pacu dan menabrak sebuah bukit.

Paparan kebutuhan sistem (requirement) dan logika perancangan jelas menunjukkan ketidak- cocokkan. Paparan kebutuhan menyatakan 'ketika pesawat mencapai tanah, maka pesawat harus mampu mengerem', tetapi logika perancangan menyatkan 'hanya ketika sensor melaporkan nilai tertentu, maka rem dapat diaktifkan'.

Apakah ini sebuah kesalahan yang disebabkan komputer ? Jelas tidak merupakan kesalahan komputer sendiri saja, sebab cuaca, pengambilan keputusan dari awak pesawat, ramalan cuaca yang tak up-to-date, dan kondisi landansan pacu, bukit yang terletak pada ujung landasan pacu, juga merupakan faktor yang memberikan kontribusi kesalahan penyebab kecelakaan. Laporan resmi hanya memberikan penjelasan mengenai pengambilan keputusan awak berdasarkan cuaca, disain dari sistem pengereman, dan informasi yang kurang pada manual. Gosip tersebar bahwa telah terjadi diskusi hebat antara Lufthansa, Airbus, dan pejabat lalu lintas udara Jerman. Segera setelah itu perubahan dilakukan "mengikuti keinginan para pelanggan". Hal ini masuk akal karena, kita harus merubah apa yang dapat kita ubah, sebab perusahaan pembuat pesawat terbang hanya dapat melakukan perubahan amat sangat kecil terhadap cuaca dan landasan pacu.

Hubungan yang tepat antara realita ('pesawat telah mendarat') dan pengukuran yang dilakukan sensor (altitude, sensor tekanan pada badab pesawat) merupakan hal yang tak mudah untuk diterapkan. Mungkin perangkat kamera video dengan sistem pengenalan citra dapat menolong ? Tapi bagaimana bila dalam kondisi berkabut ? Dan apa yang terjadi bila modul ini tak berfungsi secara handal. Setiap kegagalan fungsi dari modul ini akan memberikan effek kepada modul lainnya , bahkan juga ketika modul-modul tersebut berfungsi dengan benar. Masalah ini tidak hanya pada Airbus saja, tetapi juga untuk pesawat-pesawat masa kini yang menggunakan sistem sensor tanah untuk pengeremannya.

Kecelakaan Diakibatkan Kesalahan Kendali Komputer

Pada bulan Juni 1994, sebuah pesawat A320 milik Dragonair di Hongkong menunjukkan kecelakaan yang benar-benar merupakan permasalahan komputer. Ketika mendekati bandara, wingflap harus mengubah posisinya, dari posisi sebelumnya. Pada saat yang sama, pesawat itu sedang terbang dan dilanda angin yang mencegah terjadinya perubahan posisi ini. Kemudian, wingflap berada pasa suatu posisi, dimana logika pengendali menganggap wingflap berada pada posisi sebaliknya. Pesawat mengalami kesulitan selama pendaratan. Berbeda dengan kasus Warsawa, masalah ini dimungkinkan timbul hanya pada kondisi ketika komputer mengendalikan pesawat. Malahan pada kasus lainnya tanpa kondisi tak berfungsinya sistem pada saat yang kritis, masalah komputer telah menyebabkan bencana kecelakaan. Kejadian ini menimpa pesawat Boeing B757 American Airlines yang terbang mendekati Cali, Columbia pada bulan Desember 1995. Pilot telah mengatur ketinggian menuju posisi lebih rendah, dan pada saat yang sama juga berusaha membenarkan rute dengan bantuan perangkat komputer manajemen penerbangan (Flight Management Computer -- FMC ). Para awak pesawat mendapat gambaran yang salah mengenai posisi pesawat pada saat itu dan ditambah komunikasi dengan pengendali lalu lintas udara yang membingunkan. Para awak pesawat kurang berkonsentrasi pada penerbangan dan lebih berkonstrasi pada komputer sebab permasalahan disebabkan pada database navigasi. Digabung dengan fakta bahwa dua perangkat beacon pada saat yang bersamaan menggunakan identitas (ID) dan frekuensi yang sama. Akhrinya pesawat ini terbang menabrak gunung dan 160 nyawa menjadi korban sia-sia.

Berlawanan dengan makin kompleksnya pesawat terbang dan penanganannya, kecelakaan pesawat terbang modern "generasi ketiga" adalah lebih rendah dari sebelumnya, secara kasar dapat dikatakan satu kecelakaan per satu juta penerbangan. Walaupun demikian angka ini harus dikurangi lagi. Untuk itu dibutuhkan pemahanan yang lebih baik mengenai bagaimana komputer berinteraksi dengan komponen sistem yang lainnya, baik mekanik maupun dengan awak pesawat.(IMW)

Analisis Sistem Komputer Pengendali Pesawat Terbang


I. Pendahuluan

Pesawat terbang atau pesawat udara adalah mesin atau kendaraan apapun yang mampu terbang di atmosfer atau udara. Pesawat terbang yang lebih berat dari udara diterbangkan pertama kali oleh Wright Bersaudara (Orville Wright dan Wilbur Wright) dengan menggunakan pesawat rancangan sendiri yang dinamakan Flyer yang diluncurkan pada tahun 1903 di Amerika Serikat. Selain Wright bersaudara, tercatat beberapa penemu pesawat lain yang menemukan pesawat terbang antara lain Samuel F Cody yang melakukan aksinya di lapangan Fanborough, Inggris tahun 1910. Sedangkan untuk pesawat yang lebih ringan dari udara sudah terbang jauh sebelumnya. Penerbangan pertama kalinya dengan menggunakan balon udara panas yang ditemukan seorang berkebangsaaan Perancis bernama Joseph Montgolfier dan Etiene Montgolfier terjadi pada tahun 1782, kemudian disempurnakan seorang Jerman yang bernama Ferdinand von Zeppelin dengan memodifikasi balon berbentuk cerutu yang digunakan untuk membawa penumpang dan barang pada tahun 1900. Pada tahun tahun berikutnya balon Zeppelin mengusai pengangkutan udara sampai musibah kapal Zeppelin pada perjalanan trans-Atlantik New Jersey 1936 yang menandai berakhirnya era Zeppelin meskipun masih dipakai menjelang Perang Dunia II. Setelah zaman Wright, pesawat terbang banyak mengalami modifikasi baik dari rancang bangun, bentuk dan mesin pesawat untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara

Ada 3 (tiga) bagian penting dalam pembuatan pesawat terbang. Yang pertama adalah HIDROLIK yang berfungsi sebagai pendorong ban pesawat saat ingin landing di apron (landasan pesawat) dan sebagai penarik kembali ban setelah lepas landas (take off) dari apron. Yang kedua adalah sistim AERODINAMIK yang berfungsi untuk penyeimbang pesawat selama penerbangan dan membantu pesawat mengurangi kecepatan saat mendarat. Sistim aerodinamik juga berfungsi sebagai pembuangan angin di pesawat. Yang ketiga adalah sistim KOMPUTER yang berfungsi sebagai media perantara antara pilot dengan pesawat.


Gambar 1 : Lift Diagram

Lift Diagram menunjukan beberapa bagian bagian dasar dari sebuah sayap. basic basic ini juga berlaku pada pesawat remote control

Airfoil : Bentuk sayap ketika di lihat dari samping. biasanya berbentuk seperti tetes air
angle of attack : Sudut pada sayap untuk membelah udara pada saat terbang, semakin sudut bertambah akan semakin mengapung tapi akan menghasilkan hambatan pada laju pesawat sesuai dengan sudut yang digunakan.
Chord Line : garis antara the leading edge dan the trailing edge pada airfoil
Direction of Flight : arah terbang sayap pada waktu di udara.
Leading Edge : bagian ujung muka pada sayap
Trailing Edge: bagian ujung belakang pada sayap

ada 4 gaya utama yang terjadi pada waktu pesawat dalam kondisi terbang : thrust, lift, drag dan weight.

Thrust terjadi karena kombinasi mesin dengan propller yang menyebabkan pesawat bergerak maju.

Drag merupakan gaya hambatan yang terjadi pada waktu pesawat bergerak maju. weight merupakan gaya berat yang terjadi karena pengaruh grafitasi untuk menjaga agar kecepatan tetap konstan, maka antar gaya thrust dan drag harus sama. Untuk menjaga ketinggian pesawat gaya lift dan weight harus sama.

Pesawat terbang atau pesawat udara adalah mesin atau kendaraan apapun yang mampu terbang di atmosfer atau udara. Pesawat terbang yang lebih berat dari udara diterbangkan pertama kali oleh Wright Bersaudara (Orville Wright dan Wilbur Wright) dengan menggunakan pesawat rancangan sendiri yang dinamakan Flyer yang diluncurkan pada tahun 1903 di Amerika Serikat. Selain Wright bersaudara, tercatat beberapa penemu pesawat lain yang menemukan pesawat terbang antara lain Samuel F Cody yang melakukan aksinya di lapangan Fanborough, Inggris tahun 1910. Sedangkan untuk pesawat yang lebih ringan dari udara sudah terbang jauh sebelumnya. Penerbangan pertama kalinya dengan menggunakan balon udara panas yang ditemukan seorang berkebangsaaan Perancis bernama Joseph Montgolfier dan Etiene Montgolfier terjadi pada tahun 1782, kemudian disempurnakan seorang Jerman yang bernama Ferdinand von Zeppelin dengan memodifikasi balon berbentuk cerutu yang digunakan untuk membawa penumpang dan barang pada tahun 1900. Pada tahun tahun berikutnya balon Zeppelin mengusai pengangkutan udara sampai musibah kapal Zeppelin pada perjalanan trans-Atlantik New Jersey 1936 yang menandai berakhirnya era Zeppelin meskipun masih dipakai menjelang Perang Dunia II. Setelah zaman Wright, pesawat terbang banyak mengalami modifikasi baik dari rancang bangun, bentuk dan mesin pesawat untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara.

Jenis pesawat terbang

Berdasarkan desain

  • Balon udara
  • Kapal udara
  • Pesawat bersayap tetap
    • Pesawat bersayap satu
      • Pesawat bersayap delta
      • Pesawat bersayap lipat
      • Sayap terbang
    • Pesawat bersayap dua
    • Pesawat bersayap tiga
  • Pesawat sayap berputar
    • Helikopter
    • Autogiro

Berdasarkan propulsi

  • Pesawat terbang layang (Glider)
  • Pesawat bermesin piston
  • Pesawat bermesin turbo propeler
  • Pesawat bermesin turbojet
  • Pesawat bermesin turbofan
  • Pesawat bermesin ramjet

Berdasarkan penggunaan

  • Pesawat eksperimental
  • Pesawat penumpang sipil
  • Pesawat angkut
  • Pesawat militer

Di makalah ini kita akan membahas kegunaan komputer dalam pesawat dan sistim apa saja yang diperantarai oleh komputer tersebut serta pengetahuan akan pentingnya komputer pada pesawat atau sistim navigasi.

II. Pembahasan

Didalam setiap pesawat terdapat sistim komputer yang sangat rumit. Karena setiap kesalahan sedikit maka bisa saja terjadi kerusakan pada sistim pengendalian. Komputer sangat berperan penting dalam sistim navigasi.

Fungsi Komputer pada sistim navigasi pesawat :

  1. Fly By Wire adalah suatu sistem kendali pesawat yang menggunakan sirkuit elektronik untuk mengirimkan input pengendalian dari pilot ke motor yang menggerakkan control surface seperti flap, aileron, dan rudder.
  2. INFRARED yang berfungsi sebagai pendeteksi cuaca dan keadaan didepan pesawat.
  3. Pendeteksi ketinggian pesawat dari permukaan laut.
  4. Embeded alat sensor pesawat untuk menanggulangi kecelakaan
  5. Blackbox sebagai perekam semua kejadian pesawat selama penerbangan

Didalam setiap penerbangan (indonesia khususnya) peralatan komunikasi seperti handphone, notebook dan sejenisnya yang memancarkan sinyal tidak diperbolehkan dipakai didalam setiap penerbangan.

Bahaya yang ditimbukan oleh penggunaan hp di pesawat:

1. Arah terbang melenceng
2. Indikator HSI (Horizontal Situation Indicator) terganggu
3. Gangguan penyebab VOR (VHF Omnidirectional Receiver) tak terdengar,
4. Gangguan sistem navigasi
5. Gangguan frekuensi komunikasi
6. Gangguan indikator bahan bakar
7. Gangguan sistem kemudi otomatis

Karena menurut Dinas Kelaikan Udara atau FAA setiap HP dipandang mempunyai potensi untuk memancarkan gelombang yang dapat berinterferensi dengan komponen elektronik yang ada di pesawat terbang. Misalnya potensi interferensi frekwensi dengan modul elektronik pada Flight Management Systems seperti prosesor pengolah informasi dalam ruang cockpit, dimana pilot mendasarkan proses pengambilan keputusannya berdasarkan informasi yang tersaji dalam layar liquid crystal display atau flat panel display didepannya. Jika proses pengolah informasi ini yang merupakan jaringan komponen elektronika mengalami gangguan interferensi, maka pilot bisa jadi mengalami gangguan berupa "glitz" yang menyebabkan dalam satu split second pilot mengalami gangguan tampilan informasi pada layar, sehingga akan berpengaruh pada keakuratan informasi yang diterimanya.
Demikian juga dalam turbin, terdapat kemungkinan gangguan akibat interferensi frekwensi pada proses pengendalian turbin yang dimanage secara digital electronics controls (berupa processor computer atau electronic control units) yang dikenal dengan istilah "dual channel FADEC" yang salah satu diantaranya berfungsi mengatur flow of fuel ketepatan butiran bahan bakar yang mengalir persatuan waktu dan lain sebagainya (peralatan sejenis dapat ditemukan pada sistim pengatur engine dan bahan bakar menggunakan computer pada mobil kelas mercedez, bmw dan audi terbaru yang berbasis digital elektronik) Dan ini ada terutama pada pesawat penumpang generasi terbaru yang berbasis digital elektronik baik dalam sistim kendali terbangnya maupun dalam sistim kendali management optimasi pengaturan daya dan bahan bakar untuk menghasilkan gaya dorong pesawat pada setiap titik dilintasan terbangnya.
Sehingga bila kita melihat daftar gangguan diatas kita bisa melihat bahwa bukan saja ketika pesawat sedang terbang, tetapi ketika pesawat sedang bergerak di landasan pun terjadi gangguan yang cukup besar akibat penggunaan ponsel.
Kebisingan pada headset para penerbang dan terputus-putusnya suara mengakibatkan penerbang tak dapat menerima instruksi dari menara pengawas dengan baik.
Untuk diketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base Transceiver Station). Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada dibawahnya.
Sekiranya bila kita naik pesawat, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama, dan demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di dalam
pesawat terbang.

Tapi untuk saat ini sudah ada beberapa penerbangan yang telah bisa mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh alat elektronika.

III. Kesimpulan

Sistem komputer merupakan sistem yang paling vital dalam setiap penerbangan. Tapi tidak setiap kecelakaan yang terjadi merupakan kesalahan sistim pada komputer karena kecelakaan bisa terjadi karena kesalahan seseorang, entah itu pada saat pengecekan kelayakan terbang atau disaat penerbangan.

Senin, 13 April 2009

analisis komputer pengendali pesawat terbang

Analisis sitem pengendalian manajemen PT Garuda Indonesia

Garuda Indonesia berawal dari tahun 1940-an, di mana Indonesia masih berperang melawan Belanda. Pada saat ini, Garuda terbang jalur spesial dengan pesawat DC-3.
26 Januari 1949 dianggap sebagai hari jadi maskapai penerbangan ini. Pada saat itu nama maskapai ini adalah Garuda Indonesian Airways. Pesawat pertama mereka bernama Seulawah atau Gunung Emas, dana untuk membeli pesawat ini didapatkan dari sumbangan masyarakat Aceh, pesawat tersebut dibeli seharga 120,000 dolar malaya yang sama dengan 20 kg emas. Maskapai ini tetap mendukung Indonesia sampai revolusi terhadap Belanda berakhir.
Pemerintah Burma banyak menolong maskapai ini pada masa awal maskapai ini. Oleh karena itu, pada saat maskapai ini diresmikan sebagai perusahaan pada 31 Maret 1950, Garuda menyumbangkan Pemerintah Burma sebuah pesawat DC-3.
Pada 1953, maskapai ini memiliki 46 pesawat, tetapi pada 1955 pesawat Catalina mereka harus pensiun. Tahun 1956 mereka membuat jalur penerbangan pertama ke Mekkah.
Tahun 1960-an adalah saat kemajuan pesat maskapai ini. Tahun 1965 Garuda mendapat dua pesawat baru yaitu pesawat jet Convair 990 dan pesawat turboprop Lockheed L-118 Electra. Pada tahun 1961 dibuka jalur menuju Bandara Internasional Kai Tak di Hong Kong dan tahun 1965 tibalah era jet, dengan DC-8 mereka membuat jalur penerbangan ke Bandara Schiphol di Haarlemmeer, Belanda, Eropa.
Tahun 1970-an Garuda mengambil perangkat DC-9 dan juga Pesawat Jet kecil Fokker F28 saat itu Garuda memiliki 36 pesawat F28 dan merupakan operator pesawat terbesar di dunia untuk jenis pesawat tersebut, sementara pada 1980-an mengadopsi perangkat dari Airbus, seperti A300. Dan juga Boeing 737, juga McDonnell Douglas MD-11.
Dalam tahun 1990-an, Garuda mengalami beberapa musibah, dan maskapai ini mengalami periode ekonomi sulit. Tetapi, dalam tahun 2000-an ini maskapai ini telah dapat mengatasi masalah-masalah di atas dan dalam keadaan ekonomi yang bagus.
Salah satu lelucon mengenai maskapai penerbangan ini adalah bahwa Garuda merupakan akronim. Akronim ini adalah kepanjangan dari "Good And Reliable Under Dutch Administration" (baik dan dapat diandalkan di bawah administrasi Belanda).

Dewan Komisaris dan Dewan Direksi PT Garuda Indonesia
Dewan Komisaris :
• Mr. Abdulgani (Chairman)
• Mrs. Gunarni Soeworo
• Mr. Bambang Wahyudi
• Mr. Slamet Riyanto
• Mr. Aries Muftie

Dewan Direksi :
President & CEO : Emirsyah Satar.
EVP. Engineering, Maintenance & Information System : Sunarko Kuncoro.
EVP. Marketing and Sales : Agus Priyanto.
EVP Services : Arya Respati Suryono.
EVP Operations : Ari Sapari.
EVP Corporate Affair and Bussines Support : Achirina
EVP Finance : Alex M.T Maneklaren.

Business Unit PT Garuda Indonesia
Garuda Aviation Training and Education (GATE)
Merupakan anak perusahaan garuda Indonesia yang bergerak dibidang pelatihan penerbangan. Servis dan fasilitas yang dimiliki antara lain:
• Certificate of ISO 9001:2000 from TUV - Germany •
• Flight simulator of F-28, A-330, DC-9, DC-10, B 747-200, MD-11, B 737 300/400 •
• Static and motion mock-up of narrow and wide body aircraft (include escape sliding and swimming poll for emergency-procedure practice)
• Door trainers of narrow and wide body aircraft
• Maintenance simulator
• Cockpit procedure trainer
• Live-in accommodation for student

Garuda Medical Center (GMC) / Garuda Sentra Medika (GSM)
Merupakan penyedia jasa layanan kesehatan yang telah berpengalaman selama 50 tahun dalam bidang layanan kesehatan, dengan mengutamakan profesionalisme dan kepuasan pelanggan.
Tadinya Garuda Medical Centre merupakan salah satu divisi dari Garuda Indonesia yang bernama Pusat Kesehatan dan Layanan Medis. Pada tahun 1998, bentuk ini diubah menjadi business unit tersendiri yang berada dibawah satu direktorat yaitu Direktorat SBU, sehingga sebutan dinas pelayanan kini berubah menjadi SBU Garuda Sentra Medika.
Menyediakan dua macam layanan kesehatan yaitu GSM Healthcare (Program layanan Kesehatan) seperti layanan dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis, laboratorium dan UGD. Layanan yang lain adalah GSM Medicare (Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan).
Perolehan sertifikat ISO 9001:2000 adalah bukti dari komitmen GSM terhadap mutu pelayanan.

PT. Garuda Maintenance Facilities Aero Asia (GMF Aero Asia)
Merupakan anak perusahaan PT. Garuda Indonesia yang bergerak di bidang maintenance pesawat terbang. Perusahaan ini didirikan 50 tahun yang lalu dan berkantor di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Beroperasi di fasilitas seluas 115 hektar, dan didukung oleh teknisi sebanyak 2500 orang serta alat-alat berat yang canggih.

PT Aerowisata
PT. Aerowisata merupakan perusahaan hospitality and tourism yang pada awalnya didirikan karena pariwisata Indonesia yang sedang berkembang dengan pesat. Dalam waktu singkat PT. Aerowisata telah menjadi pionir dalam usaha sejenis yang ada di Indonesia. Selain berfungsi sebagai pendukung operasi Garuda, PT Aerowisata juga memiliki business unit seperti hotel (Sanur Beach Hotel, Hotel Preanger,dll.), jasa travel (Satriavi), catering, transportasi darat dan masih banyak lagi.

Citilink
Mulai beroperasi sejak tahun 2001. Merupakan low-cost airline untuk masyarakat menengah yang ingin membutuhkan jasa penerbangan dengan harga terjangkau. Saat ini daerah tujuan hanya meliputi Jakarta, Surabaya, Bali, Yogyakarta, Balikpapan dan Tarakan.

PT. Abacus Distribution System
Merupakan perusahaan berbasis Computerized Reservations System yang berhubungan dengan pemesanan tiket yang membantu travel biro dalam melakukan operasinya. Karena itulah PtT. Garuda Indonesia memutuskan untuk bergabung dengan Abacus Internanational pada tahun 1993 dan namanya berubah menjadi Abacus Indonesia. Pada tanggal 1 Maret 1995 PT. Abacus Distribution System Indonesia resmi berdiri sendiri di bawah Garuda Indonesia yang bermarkas Jl. Jendral Sudirman, Kav. 3-4 Jakarta.

PT. GAPURA ANGKASA
(Ground Handling)

CARGO
Perusahaan yang menangani kargo/pengangkutan barang. Pada tahun 2001 resmi menjadi SBU.

Elemen-elemen sistem pengendalian :
1. Pelacak (detector) atau sensor
Detector melaporkan apa yang terjadi di dalam suatu organisasi. Apabila diterapkan pada manajemen Garuda maka yang berfungsi sebagai detektor adalah bagian Marketing and Sales. Misalnya jika ada penurunan penjualan, maka manajer bagian penjualan akan melaporkannya ke assesor.
2. Penaksir (assestor)
Perangkat yang menentukan dampak dari peristiwa aktual dengan membandingkannya pada standar atau ekspektasi dari yang seharusnya terjadi. Pada manajemen Garuda hal ini dilakukan oleh bagian Finance. Mereka membandingkan antara budget dan aktual, jika penjualan tidak sesuai dengan target maka harus dilaporkan pada bagian efector.
3. Effector
Suatu perangkat (sering disebut feedback) yang mengubah perilaku jika assesor mengindikasikan kebutuhan yang harus dipenuhi. Setelah masalah diindikasikan maka tugas effector, dalam manajemen adalah CEO, mengambil keputusan untuk mengatasi masalah tersebut.
4. Jaringan komunikasi
Perangkat yang meneruskan informasi antara detector dan assesor dan assesor dengan effector. Dalam suatu organisasi, komunikasi antar departemen sangat penting untuk menjamin bahwa setiap informasi telah disampaikan dengan benar. Di zaman teknologi informasi sakarang ini, informasi sangat vital bagi perusahaan. Tanpa informasi perusahaan akan kalaah bersaing dari kompetitornya. Oleh karena itu peran Chief Information Officer dibutuhkan untuk mendesain jaringan/sistem komunikasi dan informasi yang dapat diandalkan untuk membantu perusahaan dalam mencapai goalnya.

Chapter 2
Understanding Strategies

GOALS
Pada umumnya goal/tujuan perusahaan dirumuskan oleh CEO dengan nasehat dari anggota senior manajemen lainnya dan selanjutnya disahkan oleh board of director.
Seperti yang tercantum dalam website resminya, tujuan utama Garuda Indonesia adalah kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Dalam jangka waktu dua tahun, Garuda telah menghidupkan kembali kebudayaan perusahaan, yaitu higher Seat Load Factor, improve On Time Performance, menambah penghasilan dan profitabilitas dan mengembangkan kepuasan pelanggan. Hal ini terbukti dari lampiran yang dicantumkan pada makalah ini.
Anak perusahaan Garuda juga menerapkan tujuan yang sejalan dengan perusahaan induknya, yaitu kepuasan pelanggan.

VISI DAN MISI PT. Garuda Indonesia
Visi
‘Perusahaan Penerbangan Pilihan Utama di Indonesia dan Berdaya Saing di Internasional’
Misi
1. Melaksanakan usaha jasa angkutan udara yang memberikan kepuasan kepada pengguna jasa yang terpadu dengan industri lainnya melalui pengelolaan secara profesional dan didukung oleh sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi tinggi.
2. Menghasilkan keuntungan dengan jaringan domestik yang kuat untuk terus meningkatkan pangsa pasar domestik dan internasional bagi usahawan, perorangan, wisatawan dan kargo termasuk penerbangan borongan.
3. Memiliki bisnis unit yang mendukung produk inti untuk meningkatkan keuntungan serta menghasilkan pendapatan tambahan dari usaha unit pendukung tersebut.

SRATEGIES
Strategi adalah petunjuk umum yang mengarahkan perusahaan agar mencapai tujuannya. Perusahaan menyusun strateginya dengan mencocokkan kompetensinya dengan kesempatan di dalam industri, misalnya dengan SWOT yang dimilikinya dan analisis lingkungan internal dan eksternalnya (disebut juga strategy formulation).
Analisis lingkungan eksternal Garuda Indonesia :

Competitor Customer Supplier
Perusahaan penerbangan dalam negeri, seperti Lion Air, Sempati Air dan Perusahaan penerbangan luar negeri, antara lain Malaysian Airline, Singapore Airline, EVA Air,dll Pelanggan yang mementingkan jasa pelayanan penerbangan dengan harga terjangkau. Garuda mempunyai anak perusahaan yang mendukung operasinya seperti PT. GMF, PT. GATE (pelatihan pilot), PT Aerowisata (katering penerbangan), PT Abacus (pemesanan tiket, dll). Selain itu garuda juga mengadakan e-auction untuk procurement agar pemeilihan supplier lebih adil dan menguntungkan

Lingkungan eksternal Garuda Indonesia
Technology Marketing Distribution Production
Garuda tidak menggunakan pesawat dengan tipe terbaru. Menguasai 50% pasar penerbangan domestik Untuk penerbangan domestik, Garuda telah menjangkau hampir seluruh kota besar di Indonesia. Sedangkan untuk penerbangan internasional belum terlalu luas. Penerbangan yang aman, pelayanan penumpang yang baik, fasilitas pesawat yang cukup memadai

Analisis SWOT
Strength :
- On time performance
- Service yang cepat dan memuaskan
- Dibandingkan dengan perusahaan penerbanan domestik lainnya, keamanan penerbangan Garuda paling terjamin
- Memiliki business unit yang mendukung aktivitas perusahaannya
- Memiliki SDM yang qualified (kompeten)
Weakness :
- Biaya operational yang tinggi menyebabkan harga tiket pesawat cukup tinggi diantara penerbangan domestik lainnya
- Tingginya tingkat KKN di dalam perusahaan yang dapat merugikan perusahaan
- Garuda mempunyai utang yang sangat banyak
Oportunity :
- pasar penerbangan internasional yang masih sangat luas
- meningkatnya kebutuhan masyarakat atas alat transportasi yang lebih cepat
Threat :
- Kompetitor yang semakin banyak dengan harga tiket yang kompetitif
- Kondisi sosial politik yang tidak menentu (misal : ancaman bom)
- Penurunan nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS
- Kenaikan BBM
Berdasarkan analisis lingkungan diatas, strategi yang diterapkan Garuda agar dapat bertahan untuk menghadapi kompetitornya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (dengan training and development pegawai), menerapkan Good Corporate Governance , meningkatkan sinergi antar unit-unit usaha yang tercangkup dalam ‘Garuda Group’, dan menerapkan aliansi strategis (misalnya dengan join service passanger dengan perusahaan penerbangan lain).

Strategi dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Strategi untuk keseluruhan organisasi (corporate level)
2. Strategi untuk business units dalam organisasi (business unit level).

Corporate Level Strategy
Berbicara mengenai di dalam bisnis apa perusahaan akan berpartisipasi dan pembagian sumber daya ke masing-masing bisnis unit. Berdasarkan corporate level strateginya, maka Garuda Indonesia diklasifikasikan ke dalam perusahaan related diversified firm yaitu perusahaan yang beroperasi di bidang industri yang mirip dan mereka berhubungan satu sama lain melalui operating synergies. Operating synergies ini dapat berupa :
- kemampuan untuk membagi sumber daya
- kemampuan untuk membagi core competency (sesuatu yang membuat suatu perusahaan sukses dan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi customer).
Ini dapat dilihat dari Garuda Indonesia dan bisnis unitnya, yaitu:
- Citilink, perusahaan penerbangan dengan harga terjangkau dan melayani penerbangan domestik. Sebagai anak perusahaan Garuda, Citilink berbagi sumber daya dengan Garuda misalnya divisi marketing, maintenance, dan procurementnya sama dengan Garuda.
- PT. Garuda Maintenance Facilities Aero Asia, perusahaan ini bergerak di bidang pemeliharaan pesawat terbang. Tidak hanya melayani Garuda saja tapi juga maskapi penerbangan lain baik nasional maupun internasional.
- PT. Aerowisata International, menyediakan jasa travel, hotel, transportasi, dan jasa katering penerbangan.
- PT. Abacus Distribution System, merupakan perusahaan yang melayani jasa pemesanan tiket melalui komputer.
- PT. Gapura Angkasa, ground handling.
- PT. Garuda Medical Centre (GMC), merupakan jasa pelayanan di bidang kesehatan. Sebelum menjadi bisnis unit tersendiri, GMC adalah divisi kesehatan Garuda Indonesia dan hanya melayani awak dan karyawan.
- Garuda Aviation and Training Education (GATE), merupakan lembaga pendidikan dan pelatihan penerbangan. Selain sebagian besar pilot Garuda mendapatkan lisensi kelayakan terbangnya dari lembaga ini, beberapa maskapai penerbangan nasional maupun internasional juga mengirimkan sumber daya menusianya untuk menjalani pelatihan disini.
- CARGO bergerak di bidang jasa angkutan/barang.
Karakteristik lain dari related diversified firm adalah mereka mempunyai core competencies yang menguntungkan business unitnya. Core competencies yang dimiliki Garuda Group adalah dibdang aviasi. Karena mereka tumbuh berkembang melalui R & D, Garuda terus melakukan inovasi untuk meningkatkan atau memperbaiki kualitas pelayanannya.

Bussiness Unit Level Strategy
Fokus dari strategi yang diterapkan pada level bisnis unit ini adalah bagaimana menciptakan dan menjaga keunggulan kompetitif di setiap industri yang dimasukinya. Ciri bisnis unit adalah dapat mengambil keputusan dan memiliki strateginya sendiri-sendiri tapi tujuan utamanya tetap sama dengan perusahaan induknya.
Usaha utama Garuda adalah jasa penerbangan, dan business unitnya pun sejalan dengan kegiatan utama perusahaan. Jadi bisa dibilang Garuda menggunakan pola Aviation Business Model untuk mengembangkan usahanya.
Berikut ini adalah Bussiness Unit Level Strategy yang diterapkan oleh BU maupun anak perusahaan Garuda.

Citilink
Pada tahun 2001, Garuda mendirikan Citilink yang hanya melayani penerbangan domestik. Strategi untuk business unit bergantung pada misi dan keunggulan kompetitifnya. Berdasarkan Boston Consulting Group’s two-by-two-growth-share matrix Citilink, berada di dalam tahap “Question mark” jadi misi yang paling sesuai adalah ‘built’. Built artinya tujuan dari misi ini adalah meningkatkan market share. Untuk menentukan strategi yang sesuai, dapat menggunakan analisis industri Porter’s Five Force Model. Berikut analisisnya :
1. The intensity of rivalry among existing competitors. Faktor yang mempengaruhi persaingan adalah :
- Pertumbuhan industri : saat ini pertumbuhan industri jasa maskapai penerbangan di Indonesia sangat tinggi
- Jumlah kompetitor : karena pertumbuhan industrinya sangat cepat, maka jumlah pesaing sangat banyak
2. The bargaining power of customers. Contoh yang mempengaruhi kekuatan pembeli adalah jumlah pembeli; masyarakat Indonesia saat ini membutuhkan alat transportasi yang cepat untuk jadi pasarnya sangat luas
3. The bargaining power of supplier. Salah satu keunggulan yang dimiliki Citilink adalah suplier karena hampir semua kebutuhan Citilink disuplai oleh perusahaan induknya, Garuda.
4. Threat from substitutes. Dengan banyaknya penerbangan sejenis di Indonesia ancaman beralihnya pelanggan sangat tinggi.
5. Threat of new entry. Dengan banyaknya perusahaan penerbangan yang menjual pesawat lamanya dengan harga murah, diperkirakan akan banyak perusahaan baruyang bergerak di bidang ini.

Dari analisa diatas sebaiknya competitive advantage yang dipilih adalah low cost. Citilink telah mempraktekan strategi tersebut. Harga tiket yang cukup murah dibandingkan perusahaan penerbangan domestik lainnya yaitu sekitar 30% lebih murah dibanding Garuda Indonesia, sasarannya jelas adalah penumpang kelas menengah yang membutuhkan transportasi yang cepat dan nyaman dengan pelayanan yang memuaskan tentunya.

PT. Aerowisata International
PT. Aerowisata merupakan hospitality industry. Visinya adalah “Customer Comes First” dengan fokus utama memuaskan pelanggannya. Saat ini berada di dalam tahapan ‘star’ karena perkembangannya yang sangat pesat. Jadi misinya adalah terus mempertahankan keunggulannya. Sebelumnya, Aerowisata merupakan bagian kecil dari Garuda hingga akhirnya berkembang, mandiri dan bahkan kini memiliki business unit sendiri, yaitu :
- PT. Mirtasari Hotel, PT. Bina Inti Dinamika, Sanur Beach Hotel dll. yang bergerak di bidang perhotelan
- PT. Citra Sarana Service, jasa boga
- PT. Satriavi, bergerak dalam bidang biro perjalanan
- PT. Aero Jasa Perkasa, keagenan transportasi udara
- PT. Mandira Era Jasa Wahana, transportasi darat
- Garuda Orient Holidays Pty Limited, wisata

Dilihat dari bussiness unitnya, corporate level strategy yang diterapkan Aerowisata sama dengan Garuda yaitu related diversified firm. Sedangkan business unit level strategy yang diterapkan adalah diferentiation. Gunakan Porter’s Five Force Model untuk menentukan business level strategy.
1. The intensity of rivalry among existing competitors. Faktor yang mempengaruhi persaingan adalah :
- Pertumbuhan industri : saat ini pertumbuhan industri pariwisata di Indonesia sedang mengalami kelesuan
- Jumlah kompetitor : belum terlalu banyak
2. The bargaining power of customers. Contoh yang mempengaruhi kekuatan pembeli adalah jumlah pembeli; cukup banyak turis yang membutuhkan jasa pelayanan wisata yang lengkap dan Aerowisata mampu menyediakan semuanya karena didukung oleh BU dan perusahaan induknya.
3. The bargaining power of supplier. Salah satu suplai Aerowisata adalah SDM. Untuk pelatihan pegawai bisa memanfaatkan BU Garuda yaitu GATE.
4. Threat from substitutes. Karena belum banyak jasa seperti ini jadi ancamannya belum terlau besar.
5. Threat of new entry. Luasnya industri ini memungkinkan banyaknya perusahaan baru yang tertarik untuk masuk ke bidang wisata.

PT. Aerowisata berupaya terus mengembangkan kualitas jasa pelayanannya dengan selalu beradaptasi dengan teknologi baru, menambah kantor perwakilan baik di dalam maupun di luar negeri, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan pelatihan intensif dan rotasi pegawai dengan maksud untuk meningkatkan dan memuaskan jumlah pelanggan.

PT. Garuda Sentra Medika
Bergerak di bidang pelayanan kesehatan. Visinya adalah adalah menjadi pusat penyedia jasa layanan kesehatan terkemuka di Indonesia, melalui pelayanan profesional, berstandar internasional dengan mengutamakan kepuasan pelanggan.
Sedangkan misinya :
• Membangun citra sebagai penyedia layanan kesehatan profesional, yang berstandar internasional
• Mengelola Healthcare Services dan Managed Care dengan efektif dan efisien
• Mengembangkan produk-produk layanan kesehatan penerbangan, jaringan klinik satelit dan rumah sakit
• Meningkatkan kompetensi, profesionalisme & kesejahteraan SDM
• Meningkatkan pendapatan usaha dan memperoleh laba yang wajar.
Analisa industri dengan Porter’s Five Force Model:
1. The intensity of rivalry among existing competitors. Faktor yang mempengaruhi persaingan GSM adalah jumlah kompetitor yang cukup banyak terutama di Jakarta.
2. The bargaining power of customers. GSM memiliki customer tetap yaitu seluruh karyawan PT Garuda Indonesia beserta seluruh anak perusahaan dan bisnis unitnya. Walaupun begitu karena banyaknya usaha sejenis customer jadi mempunyai banyak pilihan.
3. The bargaining power of supplier.
4. Threat from substitutes. Ancaman cukup tinggi
5. Threat of new entry. Jasa pelayanan kesehatan selalu dibutuhkan, jadi ancaman dari pendatang baru selalu ada.
Dari analisa diatas, strategi yang paling tepat bagi GSM adalah low cost agar dapat bersaing dengan kompetitornya.

PT. GMF Aero Asia
Selain berfungsi sebagai operation support Garuda, GMF juga melayani pemeliharaan pesawat terbang milik maskapai penerbangan lain. Misi GMF adalah ‘menyediakan pemeliharaan pesawat yang dapat dipercaya dan terintegrasi untuk menciptakan langit yang lebih aman’.
Saat ini nama GMF dikenal sebagai salah satu penyedia jasa maintenance pesawat terbang yang cukup dikenal baik di Indonesia maupun dalam dunia internasional. Ini terbukti dari jumlah klien yang mempercayakan maintenance pesawatnya pada GMF. Bisa dibilang saat ini GMF berada di tahap ‘star’ karena market sharenya yang cukup luas dan mendapat profit yang cukup besar. Pada tahap ini misi perusahaan adalah mempertahankan keunggulannya.
1. The intensity of rivalry among existing competitors.
Jumlah penyedia jasa maintenance seperti GMF masih sedikit di Indonesia, tetapi persaingan di luar negeri sangat ketat
2. The bargaining power of customers
Dengan banyaknya pilihan, customer mamegang peranan penting untuk memilih jasa perusahaan mana yang akan dipakai
3. The bargaining power of supplier.
Lemah karena jumlah supllier cukup banyak.
4. Threat from substitutes.
5. Threat of new entry. Karena perusahaan maintenance lokal sangat sedikit, masuknya perusahaaan baru ke bidang ini sangat besar.
Dari analisis didapat bahwa persaingan dalam bidang ini cukup ketat, untuk mempertahankan keunggulannya GMF menerapkan strategi low cost. Strategi ini telah diterapkan oleh GMF dan tampaknya cukup berhasil.

Penerapan Value Chain pada PT Garuda Indonesia dan Business Unitnya
Untuk lebih memahami aktivitas suatu perusahaan dan mengembangkan competitive advantage, kita perlu memisahkan aktivatas-aktivitas yang ada dalam perusahaan ke dalam suatu value chain. Value chain diterapkan untuk melihat apakah operasi perusahaan (dari tahap desain sampai distribusi) bisa ditingkatkan atau biayanya diturunkan. Vlue chain di bagi ke dalam dua bagian yaitu proses-proses utama (primary activities) dan aktivitas penunjangnya (supporting activities).
Primary activities terbagi menjadi :
• Inbound logistics, proses penerimaan dan penyimpanan bahan baku.
Pada Garuda dan BU-nya, proses ini tidak ada karena merupakan perusahaan jasa.
• Production, proses mengubah bahan baku menjadi barang jadi
Pada Garuda dan BU-nya, proses ini tidak ada karena merupakan perusahaan jasa.
• Outbound logistics, penyimpanan barang jadi
Pada Garuda dan BU-nya, proses ini tidak ada karena merupakan perusahaan jasa.
• Sales and marketing, identifikasi kebutuhan customer dan melakukan penjualan
Bagian Sales di Garuda bertgas untuk menjual jasa. Sedangkan bagian marketing berfungsi untuk mencari tahu kebutuhan pelanngannya. Misalnya pelayanan macam apa yang diinginkan dan disukai pelanggan.
• Maintenance / service, misalnya pelayanan kepada customer setelah penjualan.
Support Activity terbagi menjadi :
• Procurement, pembelian barang seperti suplai, peralatan dan material.
Saat ini Garuda menggunakan sistem procurement on-line. Salah satu sistemnya adalah dengan cara e-auction (pelelangan secara elektronik)
• Technology Development, dukungan teknologi untuk memberikan nilai tambah pada produknya. Pengembangan teknologi untuk pesawat dilakukan oleh bagian R&D di GMF.
• Human Resource Management, rekrutmen pegawai, pemberian kerja, training & development dan kompensasi. Pelatihan pilot, pegawai dilakukan oleh business unit Garuda, GATE.
• Firm Infrastructure, terdiri dari struktur organisasi, sistem pengontrolan, kebudayaan perusahaan.Bahasan tentang hal ini ada di chapter 1 dan 3.
Profit margin yang didapat oleh perusahaan tergantung pada efektivitas dalam melakukan aktivitas-aktivitas diatas dengan efisien.
Tidak semua aktivitas-aktivitas dalam value chain harus dilakukan sendiri oleh perusahaan, melainkan dapat juga dilakukan oleh business unitnya dan sebaliknya (operation synergy). Tindakan seperti ini dapat mengurangi biaya operasional. Tapi yang terjadi sinergi antar business unit ini akan menambah biaya hubungan antar departemen.

Chapter 3
Behavior in Organizations

Goal Congruence
Goal Congruence adalah tujuan suatu organisasi, yang harus dicapai oleh semua bagian dari organisasi, yang ditetapkan oleh top managemen.
Dua pertanyaan penting untuk mengevaluasi management control practice:
1. Aksi apa saja yang dapat memotivasi orang untuk menjadi kepentingan mereka?
2. Apakah aksi-aksi ini sesuai dengan kepentingan utama perusahaan?
Tujuan utama PT. Garuda Indonesia adalah kepuasan pelanggan (Customer satisfaction). Semua kegiatatn harus dikerjakan dengan baik demi kepuasan pelanggan. Tujuan ini akan dicapai dengan work culturenya (Smile ‘n Care).
Faktor Informal yang mempengaruhi goal congruence
1. Faktor External
Yang dimaksud dengan Faktor Internal adalah norma-norma mengenai tingkah laku yang diinginkan yang terjadi pada suatu perusahaan khususnya sebuah